
Sebuah karya fiksi yang akan diterbitkan oleh Sanggar Caraka bulan April 2026 ini.
Antologi cerpen Dengan Napas Al-Qur’an merupakan mahakarya para santri Pondok Pesantren Addaba. Kisah-kisah yang termuat di dalamnya adalah bentuk interpretasi ayat-ayat suci Al-Qur’an. Cerpen-cerpen ini mengajak pembaca untuk memahami bahwa sepelik apa pun kehidupan akan mampu terpecahkan dengan Al-Qur’an. Serumit apa pun masalah hidup, akan dibuat sederhana jika berpedoman dengan ayat suci Al-Qur’an.
Cerpen santri Addaba bukan hanya sekadar kisah. Ia adalah rekaman jatuh bangunnya manusia. Rekaman atas segala peliknya roda kehidupan. Dan semua itu bisa terselesaikan hanya dengan 1 ayat Al-Qur’an. Selain itu, antologi cerpen santri Addaba juga mengajak pembaca untuk menemukan makna hakiki kehidupan yang diiringi dengan nafas ilahi Al-Qur’an.
(Testimoni KH. Nur Sabani, S.Ag., M.Pd., Pimpinan Pesantren ADDABA Kebumen)
“Sudah berapa jam?” tanya seorang kiai desa. Dia heran kenapa Sono yang terkenal alim dan suka beribadah susah sekali sakaratul mautnya. Padahal semua hutang telah dialihkan ke ahli warisnya.
“Satu hari satu malam, Kiai,” jawab seorang warga.
Sang kiai mengembuskan napas. Dia melihat Sono yang kejang-kejang tiada henti. Matanya membelalak. Dadanya naik turun. Bibirnya seperti berteriak, tapi tak ada suara yang keluar dari sana.
“Apa dia melakukan dosa besar?” tanya kiai lagi.
“Ada, Kiai.” Seseorang pun mendekat dan membisikkan sesuatu pada si kiai.
Kiai mangut-mangut mendengarkan. Wajahnya yang tenang, perlahan berubah menjadi mendung. Badai mulai menggelora di sana. Dan pada akhirnya, sang kiai hanya bisa mengurut dahinya yang mengerut. Mungkin dia tak menyangka ada dosa besar yang membuat Sono tersiksa. Ada dosa besar yang membuat arwah Sono tak mau lepas dari jasadnya.
“Bebaskan Rayyan!” titah si kiai.
“Tapi Pak Kiai ….” Salah seorang keberatan.
(cuplikan cerpen Kunci Sakaratul Maut)
***
Naya yang sedang duduk di tangga pura-pura membaca buku, menahan senyum. Ia sudah menyembunyikan sandal itu di balik pintu gudang.
Baginya, itu semacam cara “aneh” untuk merasa dekat. Setiap kali Raka mencari sandalnya, ia akan mengelilingi asrama, kadang bertanya ke Naya, “Kamu lihat sandalku nggak?” dan Naya hanya menggeleng sambil berkata, “Nggak tahu.”
Hingga suatu sore, rencananya berantakan. Naya kembali mengambil sandal Raka dan berlari ke belakang asrama. Tapi kali ini, Raka diam-diam mengikutinya.
(Cuplikan cerpen Cinta di Balik Sandal)
“Istighfar nak. Ingat Tuhan tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan hambanya,” tutur sang mama mencoba menyadarkan anaknya kembali.
“Enggak mah, enggak,” kata Alana lemas sembari menggelengkan kepala.
“Kalau emang benar Tuhan tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan kita, kenapa Tuhan ngasih cobaan ini ke aku mah!. Aku nggak mampu!” ucap Alana histeris.
Amanda lemas. Ia tak kuat melihat anaknya yang begitu rapuh. Dari sorot matanya ia ikut merasakannya. Dunianya serasa hancur ketika melihat anaknya yang terus-menerus melamun dan menangis.
(Cuplikan Cerpen Allah Bersamamu)
Dari ‘oh’ mu itu, ku tahu bahwa kamu tak pernah berubah. Kamu hanya berganti gelar dari siswa ke guru. Tapi kamu masih semenyebalkan dulu. Kamu masih mencintaiku, tapi masih munafik. Semunafik diriku yang tak mau mengakui kalau dari dulu, hatiku juga ingin bersamamu.
“Kamu sendirian? Di mana … ehm …,” katamu menggantung.
“Ya!” jawabku singkat. Sebenarnya aku tahu arah pembicaraanmu. Dan kuyakin kita sama-sama tak mau melanjutkan pembicaraan ini.
Kita sama-sama terdiam. Kutatap halaman sekolah yang lengang. Ini hari Sabtu dan siswa-siswa libur. Hanya ada beberapa siswa ekskul dan beberapa guru. Tapi semua ini cukup untuk mengganggu pikiranku. Lorong-lorong ini, lorong yang menjadi saksi cerita kita, masih tetap sama. Lorong ini sama seperti yang aku lewati ketika pulang sambil melihatmu pulang menaiki sepeda.
(Cuplikan cerpen Kersen dan Cerita Cinta)
Pondok Pesantren Addaba, tempat di mana para penulisnya menimba ilmu, memiliki tujuan mulia melahirkan santri-santri berperilaku baik dan berakhlak mulia. Pesantren ini juga menggembleng mental santri untuk berkembang positif dengan mengekspresikan kreativitas melalui tampilan maupun tulisan.

