Puisi-Puisi Thoni Mukarrom

Puisi-Puisi Thoni Mukarrom


 



Aku Berlari Sendiri

 

 Kutemui
kau malam itu

Dengan
sedikit cerita

Dengan
sedikit kabar derita

Aku
menatap matamu yang mulai basah

Kau
begitu resah

Entah
kenapa, pucat wajahmu

Dingin
kulitmu, gelombang rambutmu

Dan
segala bau yang ke luar dari tubuhmu

Seolah
muncul dari ribuan keringat lelaki

Yang
datang setiap malam

Termasuk
aku

 

Aku
ingin mengajakmu lari menembus malam

Seperti
serigala berburu mangsa

Hingga
ke sebuah bukit

Di
mana rembulan tampak lebih besar

Dan
kita mengaum bersama

Merayakan
apa yang perlu dirayakan

 

Sebelum
kulanjutkan cerita kau lebih dulu menangis

Meski
tanpa suara dan air mata

Aku
lihat wajahmu lebih pucat dari mayat

Namun, aku tegar dan menatapnya lebih dalam

Aku
berlari sendiri

Menembus
malam

Melupakanmu

Membakar
bayangmu dengan asap rokok

 

Aku
terus berlari

Seperti
serigala berburu mangsa

Terus
berlari

Tanpa
tujuan

Tanpa
harapan

 


Tersesat di
Tengah Malam

 

Malam-malam
berlalu begitu saja

Bulan
kembali mengecil dan tenggelam

Di
manakah kamu cahaya hatiku

Sudah
lama aku rindu ingin bertemu

 

Di
simpang jalan itu aku telah keliru

Memilih
jalan di mana semakin jauh dari rumahmu

Tersesat
dan terpeleset

Hingga
malam mengubah jalan semakin jauh

 

Hari
hari berlalu seperti kereta kelas bisnis

Berjalan
dan tak pernah berhenti di stasiun kecil

Namun, aku selalu merasa sepi

Tak
saling kenal dengan orang di sebelah yang tertidur pulas

 

Apakah
aku masih bisa mencarimu di tumpukan kata

Yang
selalu tampak lebih suci dari mulut pemiliknya

Ataukah
kamu sekarang berada di rumah seorang pengemis tua

Yang
tinggal sendiri dengan anjingnya

 

Malam
semakin malam

Aku
duduk sendiri di pinggir pasar

Setelah
capek kesasar

 

 

Menjenguk
Teman Sakit

 

Sengaja aku tak membawa buah atau
roti. Kubawa ponsel kamera saja biar bisa kuabadikan ia yang sedang tergolek
lemah di atas ranjang. Siapa tahu ia terhibur saat kufoto. Siapa tahu
penyakitnya takut melihat lampu kilat ponselku. Siapa tahu ia segera segar
lagi. Siapa tahu ia segera bisa kembali tertawa. Tak lupa segera ku-upload ke
media sosial biar teman yang lain tahu kalau ia dan aku sedang sakit.


 

 

 Kipas
Angin Menyala 24 Jam

 

 malam kian larut

tak ada suara lain selain derit
kipas angin yang menempel di tembok

ia tak lelah meski setiap hari harus
berputar

memberi sedikit kesejukan pada ruang
3×3 meter

 

entah kenapa setiap saat tubuhku
selalu dibanjiri keringat

ia menjelma hujan dan menganak
sungai

mengalir menuju kasur busa yang
semakin tua

menahan tubuh yang semakin ringkih
dimakan usia

 

kipas angin tua yang masih setia
berputar

menemani setiap malam

memberi sedikit kesejukan

entah sampai kapan ia berhenti
mencintai

diriku yang hanya seonggok sawang

yang melekat erat di dinding kamar


Kadang Pagi Begitu Memuakkan

 

/I/

kadang pagi begitu memuakkan

melihat segala rupa wajah

yang gagal menemu kenangan

 

kadang pagi begitu memuakkan

jalan yang begitu lubang

asap sadis memaksa paru-paru sesenggukan

 

hawa berdesakkan mencari hidung

mana yang akan dijadikan rumah

selama hujan, katanya, langit akan menemukan kenangan

 

mari kita resapi batang demi batang kretek

agar tahu dada memang butuh dipekerjakan

sebelum kita istirahatkan

  

/II/

tersesat dalam bayang tubuhmu

sesaat setelah hujan membasuh retakan tanah

di pagi yang begitu gagal memanggil surya

selalu kita tanyakan ke mana matahari akan tenggelam

katanya, rengkuhlah setiap detik detak jantungmu

jangan biarkan terlena oleh rabun

 

di tubuhku mengalir kamu yang hujan deras

berputar-putar, memaksa rintih itu runtuh

tepat di hari di mana surya bergembira melihat anaknya

menetaskan kamu

 

 

 Benda-benda
Milik Doraemon yang Kupinjam Saat Merindukanmu

 

-Baling-baling bambu-

 

Aku akan terbang
menembus dinding-dinding udara

Memaksa angin dan
membelahnya

Menerabas petir,
membungkus hujan air mata

Menjadikan oleh-oleh
untukmu

 

 

-Pintu kemana saja-

 

Menembus batas impian
serta harapan

Di antara bimbang

Melupakan tempat semula

Berhijrah ke tempat
paling sepi

Mungkin puisi tumbuh
subur

Meski hujan jarang
turun

Kenangan menjalar
sepanjang jalan

Aku duduk memandang
langit

Berharap hujan membawa
genangan

Mungkin juga kenangan

 

Angin dan ingin sudah
mendingin

Membeku menusuk dada

Luka, suka, dan cinta
menyatu membentuk

Semacam raut wajah

Mungkin wajahmu

 


-Senter pengecil-

 

Mengecilkan tubuh
dengan harapan kau tak melihatku

Menyelip di antara
kenangan yang ingin kau lupakan

Hujan dan aku bersatu,
turun memberisiki atap rumahmu

 

 

-Mesin waktu-

 

Kenangan adalah hal
paling rindu

Paling mematikan saat
sepi mencekik

Kita mencintai tanpa
alasan

Pergi tanpa perpisahan

Hinggap di antara sedih

Ingin kupelajari
sesuatu

Yang paling kaubenci
dari perihal mencintai

Hingga langkah-langkah
menuju bahagia

Misalnya menikah lalu
punya anak

Punya rumah dan tak
mudah marah







Thoni Mukarrom A. I.

Thoni lahir pada 15 Agustus di Tuban, Jawa Timur. Saat ini, beliau mengabdi di Sampang Madura. Beberapa tulisanya sempat diumumkan media lokal dan nasional (Akbar, Surabaya Post, Jawa Pos, Radar Bojonegoro, Warta Tuban, Sumut Pos, Bali Post, Majalah Sagang, Buletin Jejak, Utusan Malaysia, dan lain-lain), beberapa antologi; antologi penyair bulan purnama Mojokerto (2010), Sehelai Waktu (2011), Bulan Kebabian (2011), puisi untuk kota padangku tercinta (2011), antologi pelajar Mimpi Kecil (2011), antologi puisi untuk Palestina (2011). Cerpen Your Chemical Romance (Diva Press 2011), antologi puisi dan cerpen Lembaga Bhineka (2012), Kumpulan Cerpen tunggalnya Kisah Seekor Kupu-kupu (Shell-jagat tempurung 2012), dll. Beliau dapat dihubungi melalui email: tony.tj88@gmail.com.



Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *